Ar-Risalah Menjawab Tantangan Zaman: Bagian 7

By Opini Ummah | 18 October 2022 10:38:20 | 0 | 0
Penulis: Khofifa Khurin Iin
Penulis: Khofifa Khurin Iin

Bahkan Gus Bahauddin Nursalim ( Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ ) menjelaskan bahwa banyak urgensi mempelajari kitab ar-Risalah, kitab ini membentuk sudut pandang jernih terhadap sebuah masalah fiqih. Membuka kemungkinan rekayasa fiqih untuk kemanfaatan lebih besar. Seperti pada faktanya kebolehan polisi perempuan. Seperti pemerkosaan yang butuh BAP, pelaku kejahatan dari perempuan dan pendampingan tes urin perempuan. Jawaban atas realita lagi-lagi berada di kitab ar-Risalah disanalah Imam Syafi’i berargumen. Maka dari itu atas keberkahan kitab yang luar biasa ini fiqh kita tidak menjadi fiqih secara harfiah saja melainkan fiqih yang bisa menjawab tantangan zaman. Gus Baha’ menjelaskan kitab Ar-Risalah dikarang atas pemikiran ushul fiqih Imam Syafi’i. Pemikiran ini terbentuk saat ia belajar ke Imam Hasan Al Syaibani. Imam hasan mempunyai kebiasaan menghitung uang di tempat umum, ruang tamu. “ kenapa ngumpulin uang banyak begini ?” tanya Imam Syafi’i. Imam Hasan bertanya kembali, “ berarti saya, orang alim tidak boleh punya uang dan harta ?”. “iya, orang alim tidak boleh punya uang,” jawab Imam Syafi’i. “ kalau begitu yang ini saya kasih ke orang fasik biar uangnya dibuat maksiat kepada Allah.” Lalu Imam Hasan tanya balik, "Berarti boleh orang alim punya harta banyak?". "Boleh-boleh," kata Imam Syafi'i. Gus Baha meneruskan, awalnya Imam Syafi'i datang ke Imam Hasan Assyaibani. "Ini asal-usul mengarang ar-Risalah. Sejak bertemu Imam Hasan pemikiran Imam Syafi'i berubah menjadi orang yang berpikir ala ushul fiqh. Lama-lama beliau mengarang kitab ar-Risalah," imbuh Gus Baha.  Oleh karenanya, kata Gus Baha, ar-Risalah adalah nama yang bukan sembarangan, karena mencerminkan keilmuan yang mendalam. Di dalam kitab ar-Risalah, Imam Syafi'i benar-benar menganalisis cara menggali hukum dari Al-Qur'an dan hadis. "ar-Risalah memberikan sudut pandang yang kuat. Barakah kitab Ar-Risalah, yang miskin senang karena tidak ada hisab.Yang kaya juga senang karena memberikan manfaat kepada orang banyak," kata Gus Baha.  Gus Baha lalu bercerita bahwa sebenarnya dirinya tidak mau terkenal seperti saat ini. Karena terkenal baginya sangat merepotkan diri. Namun, doa menolak terkenal juga tidak berani. Dalam kacamata kitab ar-Risalah, terkenal memiliki sisi manfaatnya juga. Masyarakat bisa mengikuti kajian yang membahas hukum Allah tanpa bayar mahal bahkan ada yang gratis via media sosial."Saya aslinya terkenal juga tidak senang. Saya tidak pernah mengurusi media. Pasrah ke Allah. Karena kalau semua yang terkenal itu mata duitan juga repot umat. Namun, kalau saya terkenal maka saya jadi repot juga," ujarnya.   Kitab ar-Risalah dikaji di banyak pesantren Nahdlatul Ulama. Sebagai bekal seorang santri dalam menggali hukum ketika kembali ke masyarakat.  Logika ar-Risalah juga dipakai Imam Ghazali. Di zaman Imam Ghazali mau jadi ahli fiqih tapi tidak boleh. Jadi dokter saja. Alasan Imam Ghazali banyak negara Islam yang kekurangan dokter, akhirnya berobat ke non Muslim."Berkahnya hidup itu dikawal orang shaleh. Menjadikan azab tidak diturunkan.
 

Baca lanjutan pada bagian selanjutnya..

Penulis: Khofifa Khurin Iin

TAG