Ketika Kaca Telah Pecah

By Admin Mediaummat | 05 April 2023 11:39:04 | 245 | 0
oleh tabloid media ummat edisi 14
oleh tabloid media ummat edisi 14

 

Almarhum  Meggy Z, dalam salah satu dendangnya mengungkapkan sebuah kalimat penuh makna, “Daripada sakit hati, lebih baik saki gigi ini… biar tak mengapa…rela-rela, rela aku relakan…”.  Ya sakit hati memang jauh lebih terasa dapi pada sakit gigi yang kata orang sakitnya tiada tanding tiada banding. Seperti pepatah Arab, Laa alama ka akalmiddaros (tidak ada rasa sakit yang menyamai rasa sakit gigi). Tapi ternyata masih ada yang jauh lebih sakit, yaitu sakit hati. Sakitnya badan mudah diobati, sakit hati kemana obat hendak dicari.

Hati ibarat kaca, manakala sudah pecah, tidak mungkin akan utuh seperti sediakala. Kerusakan pada kaca bisa bermacam-macam. Ada kaca yang hanya kotor berdebu, ada kaca yang sudah berkarat dan sangat sulit dibersihkan. Ada kaca yang telah retak. Bahkan ada kaca yang sudah hancur berantakan.

Itulah hati manusia. Seorang suami dan seorang istri harus memahami hati pasangannya ibarat kaca. Hati suami atau istri bisa rusak, mulai berdebu sampai hancur berkeping-keping gara-gara perbuatan atau ucapan pasangannya. Suami yang sesekali sikapnya mengecewakan istrinya, atau sebaliknya istri membuat hati suami panas, bisa membuat hati pasangan mereka kusam, berdebu dengan debu kekecewaan. Kalau dalam tingkat ini, masih bisa dipulihkan, dibersihkan dengan permohonan maaf dan memperbaiki sikap. Namun, jangan dianggap enteng hati yang sudah berdebu, tentu tidak bisa memantulkan kebaikan yang sempurna. Istri yang di hatinya sudah ada rasa kecewa, maka ketulusannya taat dan berbakti pada suami tidak setulus istri yang hatinya masih bersih, yang belum ternodai kesalahan sang suami, pun sebaliknya dengan suami. Suami yang hatinya masih bersih, belum terkotori sikap buruk sang istri, maka hatinya akan full dengan kasih sayang.

Selanjutnya, kalau suami yang kerap  berbuat kasar pada istri, mengucapkan kata-kata kasar apalagi sampai memukul dan menyakiti istri, maka bisa jadi hati sang istri bukan hanya berdebu tapi ulai retak. Dia mengalami tekanan perasaan yang dalam. Sebaliknya, istri yang menentang suami, menjatuhkan suami di hadapan keluarga atau tetangga, bisa membuat hati suami kecewa dan mulai retak. Untuk membersihkan hati yang retak tentu tidak segampang hati yang hanya berdebu.  Perlu permohonan maaf yang lebih tulus dan perubahan sikap yang lebih nyata, agar keretakan hatinya tidak semakin membesar yang bisa berujung pecah.

Nah, tingkatan tertinggi adalah ketika hati hancur berkeping-keping. Penyebab hati hancur adalah ketika pasangan telah mengkhianati cinta alias selingkuh. Inilah penyebab utama hati hancur berantakan. Dan sekarang perselingkuhan kabarnya semakin marak terjadi. Data berbagai penelitian menyajikan fakta yang sangat memprihatinkan. Perselingkuhan bisa terjadi dengan siapa saja, dengan teman kerja, dengan tetangga bahkan dengan saudara. Selingkuhnya nggak tanggung-tanggung, dengan adiknya istri, atau saudaranya suami.

Sakitnya hati akibat pasangan selingkuh memang tak terobati. Mengkhianati cinta, seperti dosa syirik, menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Allah SWT Yang Maha Pengampun saja untuk dosa syirik ini tidak mau mengampuni sebelum benar-benar taubat nasuha. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang telah mempersekutukan Allah, maka dia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An-Nisa: 48)

Tak sedikit pembaca MU yang curhat, hatinya sakit bahkan serasa hancur, gara-gara membaca SMS mesra di handphone suami dengan wanita lain. Sampai ada yang mengistilahkan ibarat disambar petir di siang bolong, masyaallah. Itulah kehancuran hati.

Nah, hati yang telah hancur, ibarat kaca yang telah hancur tentu sangat sulit untuk menyatukan kembali, apalagi ingin mengembalikan seperti semula yang utuh dan bersih. Tidak bisa. Meski sudah dimintai maaf, bahkan lisannya sudah memaafkan, tetap luka itu masih membekas. Bekas pecahan kaca itu masih ada. Suatu saat manakala dikoyak dengan kesalahan sedikit saja, dia akan sangat mudah hancur.

Bahkan, tragisnya, banyak suaim atau istri yang ketika tahu pasangannya selingkuh diapun balas dendam dengan cara sma-sama selingkuh. Masyallah. Kalau dulu ada pepatah, hutang nyawa dibayat nyawa, kini ada lagi, hutang selingkuh dibayar selingkuh. Na’udzubillah. Kalau sudah begini, maka petaka rumah tangga tidak akan berujung, terus berputar-putar.

Maka, seorang suami atau istri  berusaha semampunya untuk tidak menyakiti perasaan dan membuat hati pasangannya terluka, dengann disakiti. Suami istri sejatinya saling membutuhkan dan harus saling menyayangi. Dalam hadits  riwayat at-Turmudzi, Nabi menyindir para suami yang suka menyakiti istrinya, Beliau bersabda: "Tidakkah seorang diantara kalian merasa malu memukul istrinya, sebagaimana memukul seorang hamba sahaya? Ia memukulnya di awal siang dan menggaulinya diakhir siang".

Kita diingatkan, jangan suka menyakiti atau memukul istri. Sebab kita saling membutuhkan. Buktinya, walaupun di pagihari istrinya dipukul, tapi kalau wudah butuh akhirnya minta jatah juga. Apa nggak malu pak. 

 

Oleh: Fahrurozi Tamimi

 

TAG