Berpendirian, Tidak Ikut-Ikutan!

By Agus Fadilla Sandi | 19 March 2024 11:49:43 | 48 | 0
gambar oleh canva
gambar oleh canva

Salah satu kondisi yang mungkin pernah dialami oleh orang yang tertinggal dalam salat jamaah (masbuk) adalah keragu-raguan. Ragu apakah rakaat salatnya sudah cukup atau masih kurang. Dalam situasi tersebut, tak jarang seseorang melirik siapa yang di sampingnya. Berkeyakinan bahwa mereka sama-sama masbuk, sehingga bersandar pada rakaatnya dapat dibenarkan.

Syaikh Dr. Labib Najib Abdullah Hafizhahullahu ta’alaa merespons kondisi tersebut dengan menyatakan,

إعتمد على يقينك، ولا تعتمد على غيرك !

"Bersandarlah pada keyakinanmu, dan jangan bersandar pada selainmu!" 

Syaikh menekankan bahwa sudah seharusnya seseorang memiliki pendirian sesuai keyakinannya sembari meninggalkan keragu-raguan. Dalam hal rakaat salat, lakukan sesuai keyakinan dan sempurnakan dengan sujud sahwi. Itu lebih baik dari pada harus ikut-ikutan dengan orang yang bersampingan.

Mengambil ibrah untuk konteks yang lebih luas, hidup ikut-ikutan memang bukanlah sesuatu yang mulia. Hal ini sesuai dengan apa diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata,

لا يكون أحدكم إمَّعَة، قالوا: وما الإمعة يا أبا عبد الرحمن؟ قال: يقول: إنما أنا مع الناس، إن اهتدوا اهتديت، وإن ضلوا ضللت، ألا ليوطن أحدكم نفسه على إن كفر الناس، ألا يكفر.

"Janganlah ada di antara kalian yang hidup seperti 'Imma'ah." Mereka bertanya, "Apa itu Imma'ah, ya Abu 'Abdul Rahman?" Beliau menjawab, "Dia berkata, 'Sesungguhnya aku hidup bersama manusia. Jika mereka mendapat petunjuk, aku ikut petunjuk. Jika mereka tersesat, aku ikut tersesat. Seharusnya seseorang tidak menempatkan dirinya dalam keadaan jika orang-orang kafir, maka ia pun ikut kafir."

Demikian buruknya hidup yang serba ikut-ikutan, karena tidak memiliki pendirian. Maka, sudah seharusnya seorang yang beriman memiliki keyakinan dalam menjalani kehidupan, khususnya ibadah yang ditunaikan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang berpendirian dan tidak terjerumus ikut-ikutan. Aamiin.

[Faedah Daurah Fikih Intensif STIU WM Bogor]
Ditulis oleh: Abu Musa, Agus Fadilla Sandi

TAG